satu semester berapa bulan

Semester Berapa Sebaiknya Mulai Mempersiapkan Sempro?

Semester Berapa Sebaiknya Mulai Mempersiapkan Sempro?

Bagi sebagian besar mahasiswa, skripsi menjadi momok yang sangat menakutkan. Terlebih bagi calon mahasiswa maupun mahasiswa baru. Bahkan, gak jarang ada yang sudah memikirkan topik penelitian skripsi sejak baru memasuki perguruan tinggi. Ada juga yang mengira bahwa untuk menyusun skripsi harus mulai dari semester awal. Tahukah kamu, bahwa sebelum mengerjakan skripsi, kalian harus melewati seminar proposal terlebih dahulu. Dari seminar proposal ini dosen akan menentukan apakah topik kita layak untuk dijadikan skripsi atau tidak. Lalu, di semester berapa sebaiknya mulai mempersiapkan sempro?

Seminar proposal skripsi adalah salah satu momen yang penting dan sakral bagi para mahasiswa tingkat akhir. Sebagai gambaran, sempro adalah adalah pengajuan rencana penelitian yang harus kamu presentasikan kepada dosen pembimbing dan penguji. Sempro sendiri terdiri dari bab 1 sampai bab 3, yang merupakan bagian paling krusial dari pengerjaan skripsi.

Karena pada bab 1 hingga 3 ini lah yang menentukan seberapa penting dan berbobot penelitian kalian. Oleh sebab itu, pengerjaan sempro bertujuan agar para mahasiswa dapat mengidentifikasi topik penelitian, merumuskan penelitian masalah, memahami latar belakang penelitian, hingga merencanakan penggunaan metode penelitian.

Namun kalian gak perlu panik, karena pada semester sebelumnya kalian pasti sudah dibekali dengan mata kuliah berbagai metode riset yang dapat digunakan untuk skripsi. Di sinilah kesempatan kalian untuk benar-benar memahami berbagai jenis metode riset penelitian, agar tidak kebingungan saat mengerjakan sempro dan skripsi nantinya.

Baca Juga: 5 Universitas Negeri di Surabaya dan Ini Jurusannya yang Terfavorit

Jadi, Kapan Sebaiknya Memikirkan “Sempro Semester Berapa, ya?”

Umumnya, mata kuliah sempro ada di semester 7, tapi tidak jarang ada yang sudah mengambilnya dari semester 6. Tentunya hal ini menyesuaikan dengan kebijakan kampus dan kepala program studi (kaprodi). Karena itu, biasanya mahasiswa mulai memikirkan apa yang mau mereka teliti satu semester sebelum mengambil sempro. Mengapa gak kepikiran mulai dari semester awal?

Semester awal adalah masa di mana kamu mengenali dan beradaptasi dengan dunia kampus. Memahami lebih jauh terkait jurusan yang kamu ambil melalui mata kuliahnya dan mempelajari keilmuannya. Kamu juga dapat lebih memahami ruang lingkup jurusanmu. Selain mengenali jurusanmu lebih dalam, kamu juga bisa sambil mengenali hal apa yang kamu minati. Di semester 4 dan 5 kamu akan mendapat mata kuliah berbagai jenis metode penelitian yang bisa kamu gunakan pada sempro dan skripsimu. Di sini kesempatanmu untuk memikirkan hal apa yang menarik untuk kamu teliti, serta mencocokkannya dengan metode penelitian.

Kamu mungkin akan menemui sempro atau praktek kerja lapangan di semester berikutnya, tentu urutannya tergantung kebijakan masing-masing kampus ya. Di sini saatnya kamu lebih serius memikirkan proposal penelitianmu, agar bisa melanjutkannya ke tahap skripsi. Di akhir masa pembelajaran sempro, biasanya mahasiswa akan melakukan presentasi proposal penelitiannya, yakni dari bab 1-3 di depan dosen pembimbing dan penguji. Tujuannya adalah untuk membantu mahasiswa dalam menyiapkan skripsi agar arah penelitiannya sesuai.

Jika semua sudah sesuai dan teratur, kamu akan lebih mudah dalam mengerjakan dan menyelesaikan skripsimu, sehingga kamu dapat sidang skripsi dan lulus tepat pada waktunya. Karena itu gak perlu takut dalam menghadapi sempro dan skripsi, karena semua akan bisa terlewati jika kamu rajin dan bersungguh-sungguh dalam masa perkuliahan.

MENGENAL KAMPUS: SISTEM PEMBELAJARAN DI BANGKU KULIAH

MENGENAL KAMPUS: SISTEM PEMBELAJARAN DI BANGKU KULIAH

Bagi para mahasiswa baru, masa awal memasuki dunia kampus pastilah memberikan kesan tersendiri. Selain memiliki kultur dan sistem pendidikan yang berbeda dengan lingkungan SMA, dunia kampus juga berarti kesempatan untuk menemukan teman baru, tempat baru dan pengalaman baru. Banyak mahasiswa baru yang sudah mantap untuk menghadapi perubahan ini, tapi tak sedikit yang masih berdebar-debar untuk menghadapinya.

Sedikit berbeda.
Bagi sebagian mahasiswa yang kebetulan memiliki saudara atau teman yang sudah terlebih dulu memasuki dunia kampus, pasti sedikit mengerti tentang perbedaan kultur kuliah dan sekolah. Walau begitu rasa penasaran untuk segera mengalaminya sendiri pasti pernah dirasa. Apalagi bagi mereka yang kebetulan benar-benar blind atau asing dengan dunia perguruan tinggi, pasti rasa penasaran akan lebih besar, bahkan tak jarang juga bercampur dengan rasa takut.

Perbedaan pertama  adalah mengenai sistem kredit semester (SKS) yang mungkin sangat asing pada jenjang sebelumnya. Dalam sistem ini, memungkinkan mahasiswa untuk memilih mata kuliah yang ingin diambil atau dipelajari dalam kurun waktu satu semester, tentunya dengan beberapa persyaratan tertentu. Ada mata kuliah yang tercantum dalam semsester genap, ada pula yang tercantum di semester ganjil. Sebagai contoh, pada semester dua seorang mahasiswa memilih tidak mengambil mata kuliah grammar karena satu dan lain hal. karena mata kuliah tersebut tercantum pada semester dua atau semester genap,maka ia dapat mengambil mata kuliah tersebut pada semester empat, enam atau delapan.

Selain itu, dalam sistem SKS juga memungkinkan mahasiswa mengambil kembali (re-take) beberapa mata kuliah yang pada semester sebelumnya ia mendapat nilai yang tidak memuaskan. Seperti  jika pada semester tiga seorang mahasiswa mendapat nilai D untuk mata kuliah translation maka ia dapat re-take mata kuliah tersebut di semester lima atau tujuh. Tentunya dengan harapan nilai yang diraih jauh lebih baik.

Hal ini sangat membantu mahasiswa, terutama bagi mereka yang juga sedang bekerja atau memiliki kesibukan tertentu. Tapi sebenarnya ini juga memiliki potensi yang justru dapat membuat mahasiswa kesulitan menyelesaikan waktu studinya.  Banyak kasus yang menunjukkan mahasiswa suka menumpuk-numpuk beban  mata kuliahnya, yang pada akhirnya membuatnya kesulitan pada semester-semester mendatang.

Sebenarnya walau berbeda, dunia perkuliahan juga memiliki persamaan dengan kultur dan sistem di sekolah. Masih ada laporan evaluasi hasil pembelajaran yang jika di sekolah disebut rapor, maka di kampus disebut Indeks Prestasi (IP). IP sendiri ada dua jenis, yaitu IP semester dan IPK atau IP kumulatif. IP semester atau sering disebut IP saja adalah kumulasi dari nilai  hasil belajar mahasiswa dibagi jumlah beban sks dalam satu semester. Sedang IPK adalah komulasi dari hasil belajar mahasiswa yang perhitungannya berdasarkan pada semua beban sks yang telah ditempuh oleh mahasiswa.

Dua hal di atas adalah  contoh kecil dari perbedaan yang ada dalam dunia kampus dengan dunia SMA. Mahasiswa sudah dianggap dewasa, sehingga diharapkan mampu untuk lebih bertanggung jawab dalam mengelola perkuliahannya sendiri. Biasanya pihak kampus menyediakan seorang dosen pengampu atau pendamping akademik bagi mahasiswa. Dosen inilah yang akan mendampingi mahasiswa sampai ia menyelesaikan kuliahnya. Fungsi dosen pendamping adalah sebagai pendamping  bagi mahasiswa dalam mengelola rencana kredit semesternya. Dalam hal ini dosen pendamping  akan menyetujui atau menolak rencana dari mahasiswa dalam hal memilih beban sksnya.

Universitas, Fakultas dan Prodi.
Ketika membicarakan mengenai sistem pembelajaran di perguruan tinggi, maka pasti tidak bisa lepas dari kata-kata Universitas, Fakultas dan Prodi. Sebenarnya apakah arti dari kata-kata tersebut?. Mari kita mulai dengan Universitas. Secara umum dan sederhana bisa kita definisikan universitas sebagai salah satu bentuk dari lembaga perguruan tinggi yang terdiri dari beberapa fakultas. Disebut sebagai salah satu bentuk, karena sebenanrnya selain universitas, ada beberapa bentuk lain dari Perguruan tinggi, seperti akademi, institut dan sekolah tinggi.  Sebagai sebuah lembaga, tentu sebuah Universitas memiliki sebuah struktur kepemimpinan. Pemimpin tertinggi dalam sebuah universitas disebut rektor.

Di dalam sebuah universitas sendiri, ada beberapa fakultas-fakultas. Fakultas tersebut dapat kita artikan sebagai sekumpulan program stud  (prodi) yang memiliki landasan disiplin ilmu yang sama. Misal fakultas teknik, yang di dalamnya mungkin terdapat prodi teknik mesin, prodi teknik otomotif, prodi teknik sipil dan sebagainya. Jika pimpinan dalam sebuah universitas disebut rektor, maka pimpinan dalam sebuah fakultas disebut dekan. Prodi juga memiliki struktur tersendiri i. Pimpinannya berada di tangan seorang ketua prodi dan biasanya dibantu oleh beberapa wakil, seorang sekretaris, seorang bendahara dan beberapa jabatan lainnya.

KKN dan PKL
Sebuah perguruan tinggi selalu berlandaskan pada tridharma perguruan tinggi dalam menjalankan segala roda aktivitasnya. Apakah itu tridharma perguruan tinggi? Ini adalah semacam landasan bagi semua perguruan tinggi di Indonesia. Adapun isi dari tridharma perguruan tinggi adalah: pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan serta pengabdian kepada masyarakat. Inilah yang menjadi landasan bagi semua perguruan tinggi di Indonesia.

Dalam rangka menunaikan tiga kewajiban tersebut, perguruan tinggi mengintegrasikan mata kuliah yang bertujuan untuk mewujudkan pengabdian kampus kepada masyarakat. Salah satu yang paling populer adalah KKN atau Kuliah Kerja Nyata. Dalam KKN, mahasiswa diaharapkan untuk menyatu dengan masyarakat. Ini menghindarkan warga kampus dari gejala primordialisme kampus yang membuat mereka terpisah dari masyarakat dan seakan-akan membentuk kelas sendiri. KKN bertujuan untuk menghilangkan sekat-sekat yang mungkin ada antara mahasiswa dan masyarakat.

Baca Juga : Pendaftaran PKN STAN 2022 untuk Lulusan SMA/SMK/MA

Banyak hal yang dilakukan oleh mahasiswa dalam KKN tergantung tema besar yang diusung. Ada beberapa tema besar yang biasanya ada dalam KKN, seperti Pemberdayaan Keluarga Kecil, Peningkatan Mutu Pendidikan Masyarakat, Pengentasan Buta Aksara dan sebagainya. Banyak mahasiswa yang malas mengikuti KKN, padahal dengan KKN lah, justru mahasiswa diberi kesempatan secara nyata mengembangkan skill sosial mereka.

Beda dengan KKN, PKL atau Praktik Kerja Lapangan adalah suatu program mata kuliah yang bertujuan untuk mengasah keterampilan mahasiswa pada praktik nyata di lapangan. Metode teknis PKL tergantung dari fakultas asal. Jika berasal dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) , mahasiswa biasanya diberi waktu tertentu untuk praktik mengajar di sekolah. Jika berasala dari FE atau Fakultas Ekonomi, mahasiswa mungkin diminta berpraktik di sebuah perusahaan atau koperasi. PKL sebenanrnya juga menawarkan kesempatan kerja  yang sangat baik. tak jarang melalui PKL, mahasiswa mendapat sebuah pekerjaan.

Beasiswa
Tanggung jawab yang dipikul  sebagai seorang mahasiswa tentunya berbeda dengan tanggung jawab pelajar sekolah menengah atas. Mahasiswa sewajibnya mulai memikirkan visinya ke depan, terutama mengenai keuangan. Dengan biaya yang rata-rata tidak sedikit, banyak mahasiswa yang tersadar untuk mulai meringankan beban orang tuanya. Ada yang dengan bekerja paruh waktu ataupun memburu beasiswa.

Sebenarnya banyak beasiswa yang dapat ‘diperebutkan”, termasuk jenis dan syaratnya.  Beberapa beasiswa yang paling populer diantaranya BKM (beasiswa khusus mahasiswa) dan Beasiswa PPA (program peningkatan akademik), keduanya dikeluarkan oleh Kemendiknas.  Selain itu ada beberapa beasiswa yang dikeluarkan oleh korporasi atau perusahaan seperti beasiswa Djarum (PT Djarum Kudus, tbk), Beasiswa PGN (Perusahaan Gas Negara) Beasiswa Beasiswa MEDCO, Beasiswa ASTRA, Beasiswa Bank Indonesia, Beasiswa Sampoerna dan masih banyak lagi. Beberapa yayasan pun ada yang menyediakan beasiswa untuk mahasiswa, seperti Beasiswa SUPERSEMAR (Yayasan Supersemar) Beasiswa dari Gloria, Beasiswa dari Goodwill International, Beasiswa dari Yayasan Karya Salemba dan masih banyak lagi.

Menentukan jangka waktu kuliah
Satu lagi yang terpenting adalah menentukan jangka waktu kuliah. Keadaan ekonomi keluarga, ikatan dan syarat beasiswa serta kondisi dan tren dunia kerja harus dipertimbangkan. Apalagi ada beberapa kampus yang menerapkan sistem DO atau drop-out bagi mahasiswa yang terlalu lama menyelesaikan kuliahnya. Mahasiswa yang di drop-out berarti mahasiswa tersebut telah kehilangan statusnya sebagai mahasiswa atau dengan kata lain dipecat. Aktivitas di UKM dan ORMAWA ataupun yang lain terkadang menjadi kendala utama dalam menyelesaikan waktu kuliah. Begitu pula dengan skripsi dan nilai akademis. Sebagai seorang mahasiswa, diharapkan mampu berpikir bijak dan sesegera mungkin turut berkarya dan bekerja untuk membangun masyarakat dan dirinya sendiri setelah lulus.

Perjalanan Panjang Menjadi Seorang Dokter, Butuh Berapa Lama Sih?

Perjalanan Panjang Menjadi Seorang Dokter, Butuh Berapa Lama Sih?

Bercita-cita menjadi seorang dokter memang sudah menjadi dambaan setiap anak. Prospek masa depan yang cerah membuat profesi ini digandrungi setiap kalangan.

Meskipun terlihat sangat menggiurkan, ternyata untuk menyandang gelar sebagai dokter tak semudah seperti yang kamu bayangkan, lho. Rangkaian proses pendidikan harus kamu selesaikan dalam waktu yang cukup lama.

Nah, apa saja sih proses pendidikan yang harus kamu lalui?

1.Program sarjana kedokteran

Seperti kuliah pada umumnya, untuk menjadi seorang dokter harus menyelesaikan pendidikan sarjana dalam kurun waktu 3,5 hingga 4 tahun. Selama menjalani perkuliahan, mahasiswa kedokteran akan diasah kemampuannya melalui skill lab, pendalaman materi histologi, mikrobiologi, hingga anatomi.

Dengan demikian, kemampuanmu di bidang ilmu kedokteran akan dipertajam melalui perkuliahan ini. Nah, jika kamu sudah mendapatkan bekal yang matang, pasti kamu bakal siap tuh melalui tahapan selanjutnya.

Baca Juga : Psikologi Pendidikan Pengertian, Contoh & Tujuan, Lengkap!

2. Program Profesi

Untuk mendapatkan gelar dokter, seorang sarjana kedokteran harus melalui program profesi. Program profesi ini sih biasanya disebut sebagai koas. Tahapan sebagai koas dilakukan di rumah sakit dalam kurun waktu 1,5 hingga 2 tahun. Pada program ini kamu akan dihadapkan dengan ilmu kedokteran yang sebenarnya. Di sini kamu akan berhadapan langsung dengan pasien, lho. Jadi kamu harus selalu sigap dan sabar ya!

3. Internship

Eits! Belum berhenti sampai program profesi saja. Setelah menjalani program profesi, seorang dokter muda harus melalui tahap Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI). Pada tahapan ini menentukan dokter muda untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR).

Nah, gak berhenti sampai situ aja ya. Setelah berhasil mengantongi STR, seorang dokter wajib untuk mengikuti program magang atau internship. Seorang dokter internship akan mengikuti rangkaian praktek pada tempat yang sudah mendapatkan Surat Izin Praktek (SIP), seperti Rumah Sakit tipe C (Kabupaten) maapun seluruh puskesmas di Indonesia. Pada program internship ini dilakukan hingga kurun waktu 1 tahun.

4.Program Spesialis

Mungkin gak semua dokter akan mengambil program spesialis. Tapi jika kamu ingin mempertajam ilmu dan skill melalui program spesialis ini.

Untuk menjadi seorang dokter spesialis, kamu harus menghabiskan waktu untuk sekolah spesialis mulai dari empat hingga enam tahun. Di program ini kamu akan ditempa dengan berbagai ilmu dan skill dari program spesialis yang kamu ambil.

Setelah dihitung-hitung, agar menjadi seorang dokter kamu harus melalui enam tahun untuk menyelesaikan pendidikan. Belum lagi kalau ingin melanjutkan ke jenjang program spesialis. Perlu waktu lebih kurang 12 tahun untuk menyelesaikan studi. Wah, ternyata butuh jangka waktu yang sangat lama ya!

So, buat kamu yang ingin menjadi seorang dokter, wajib hukumnya buat menyiapkan mental dan pikiran selama melalui proses tersebut. Yakinlah proses yang kamu lewati pasti akan menuai hasil di kemudian hari. Selamat berproses dan good luck!

Kuliah Berapa Tahun dan Berapa Semester? Simak Penjelasannya Berikut Ini

Kuliah Berapa Tahun dan Berapa Semester? Simak Penjelasannya Berikut Ini

Sebelum menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi kamu perlu mengetahui kuliah berapa tahun untuk jenjang S1, S2 dan S3. Terkadang kamu mungkin melihat ada yang sudah kuliah namun tidak lulus-lulus. Jadi, sebenarnya waktu untuk kuliah itu berapa tahun?

Mengetahui informasi tentang lama waktu kuliah akan membantu kamu untuk melakukan estimasi terkait pembiayaan. Selain itu, kamu juga akan lebih mudah untuk mempersiapkan diri dalam meniti karir. Tidak sedikit pula mahasiswa yang ingin mengejar target untuk segera lulus.

Lama Kuliah Jenjang Sarjana (S1)

Perkuliahan jenjang Sarjana (S1) biasanya dapat ditempuh dalam kurun waktu 4 tahun atau 8 semester. Jika dalam waktu 8 semester kamu belum menyelesaikan pendidikan, biasanya pihak kampus akan memberikan kesempatan hingga 14 semester atau 7 tahun.

Baca Juga: Masih Galau Pilih Jurusan Kuliah? 7 Cara Ini Bisa Membantu Kamu

Jika dalam kurun waktau 7 tahun belum berhasil menyelesaikan pendidikan, maka akan diberlakukan kebijakan Drop Out (DO). Namun, beberapa kampus mungkin memiliki kebijakan tersendiri. Ada juga kampus yang membuat kamu dapat menyelesaikan kuliah dengan 7 semester atau 3,5 tahun.

Lama Kuliah Jenjang Magister (S2)

Setelah menmpuh pendidikan S1, tidak jarang yang ingin langsung lanjut ke jenjang S2. Banyak juga yang bertanya kuliah berapa tahun untuk dapat gelar S2? Nah, untuk dapat menyelesaikan pendidikan di jenjang S2, biasanya waktu idealnya adalah 4 semester atau 2 tahun. Namun, ada waktu tambahan hingga 8 semester untuk menyelesaikan masa studi. Jika dalam waktu 8 semester belum selesai, maka biasanya akan berlaku kebijakan DO.

Lama Kuliah Jenjang Doktoral (S3)

Dengan tingkat kerumitan yang lebih tinggi, jenjang doktoral biasanya memiliki tenggang waktu yang lebih fleksibel. Idealnya waktu yang ditempuh untuk jenjang pendidikan S3 sebanyak 3 tahun atau 6 semester walaupun ada juga yang lebih cepat dari itu.

Tidak sedikit orang yang menyelesaikan pendidikan dengan jangka waktu yang lebih lama. Pada dasarnya tidak ada batasan untuk jangka waktu kuliah S3. Ada yang dapat menyelesaikan pendidikannya hingga 10 tahun.

Lama Kuliah Jenjang Diploma

Selain jenjang sarjana, beberapa orang juga memilih jenjang diploma dengan berbagai pertimbangan. Untuk jenjang D2 waktu yang diperlukan adalah 4 semester atau dua tahun. Sedangkan untuk D3, waktu maksimal untuk menempuh pendidikan adalah 6 semester atau 3 tahun. Untuk jenjang D4 waktu yang ditempuh sama seperti S1 yaitu 4 tahun atau 8 semester.

Jika kamu memilih untuk kuliah, maka kamu dapat mengupayakan agar lulus tepat waktu. Lulus dalam waktu yang lebih lama akan merugikan kamu dari segi biaya dan waktu. Oleh karena itu, kamu harus berkomitmen untuk lulus tepat waktu.

Tips Agar Kuliah dapat Lulus Tepat Waktu

Tidak sedikit mahasiswa yang membutuhkan jatah semester karena tidak berhasil menyelesaikan masa pendidikan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Bahkan banyak juga yang menyerah hingga DO. Namun, kamu tidak perlu khawatir. Beberapa tips berikut akan membantu kamu untuk lulus kuliah tepat waktu.

  • Buat target setiap semesternya agar kamu dapat lulus tepat waktu.
  • Pelajari seluruh mata kuliah dengan keseriusan agar tidak mengulang mata kuliah yang sama di semester selanjutnya.
  • Pilihlah untuk mengikuti organisasi kampus yang bermanfaat untuk masa depan namun jangan lupa dengan target lulus tepat waktu.
  • Selalu ingat bahwa biaya yang dikeluarkan akan semakin banyak ketika kamu membutuhkan semester tambahan.
  • Banyak berdoa agar dimudahkan segala urusan yang terkait dengan perkuliahan.

Kini kamu harus lebih semangat lagi dalam menempuh perkuliahan. Ingat bahwa kesempatan untuk kuliah tidak diperoleh semua orang. Komitmen sejak awal masuk kuliah juga perlu agar kamu dapat lulus tepat waktu