jenis sapi yang bagus untuk ternak

CARA MEMILIH SAPI BAKALAN YANG BAIK

Aflah – Indonesia – Usaha penggemukan sapi memang diminati banyak peternak dan pengusaha. Periode cash flow yang cepat, keuntungan tinggi, pasar yang terbuka menjadikan usaha penggemukan ini bisnis yang menggiurkan. Namun banyak yang ingin memulai bisnis ini belum mengetahui bagaimana memulainya, salah satunya adalah bagaimana cara memilih bakalan.

Memilih bakalan yang tepat, sangat berpengaruh dalam kesuksesan usaha penggemukan, karena perdampak langung terhadap produktifitas ternak dan efisiensi pakan yang digunakan. Salah memilih bakalan, bisa membuat biaya pakan membengkak, namun pertambahan bobot badan tidak seberapa. Tetapi jangan khawatir, memilih bakalan tidak terlalu sulit, para pengusaha yang baru memulai usahanya di penggemukan sapi, bisa menerapkan tips-tips dibawah ini.

Memilih Bangsa Ternak

CARA MEMILIH SAPI BAKALAN YANG BAIK

Salah satu yang sering menjadi perhatian di usaha penggemukan sapi adalah PBB alias pertambahan bobot badan, karena PBB ini yang menentukan berapa banyak selisih bobot badan sapi yang bisa dikonversi menjadi keuntungan bagi pengusaha. Setiap bangsa memiliki keunggulan tersendiri, ras impor (Simental, Limousin) memang memiliki keungulan PBB harian yang bisa mencapai 1,2 kg. Namun pakannya harus berkualitas tinggi. Sementara sapi lokal (PO, Bali, Madura) biasanya memiliki PBB harian sekitar 0,6-0,8 kg, tetapi biaya dan kualitas pakanyang digunakan lebih rendah dibandingkan dengan yang impor. Jadi, untuk pemilihan bangsa ternak ini, sangat tergantung pada ketersediaan pakan didaerah/lokasi penggemukan dan juga biaya yang tersedia. Nah, silahkan dipilih bangsa mana yang cocok dengan lokasi penggemukan anda.

Menentukan Umur Ternak

Nah ini dia faktor yang seringkali peternak atau pengusaha terkecoh. Peternak atau pengusaha biasanya lebih fokus terhadap performa ternak, besar, bagus, dan sehat, tetapi melupakan umur ternak yang akan dijadikan bakalan, seringkali yang dipilih adalah umur tua atau lebih dari 3 tahunan. Alhasil, PBB harian tak seberapa, biaya pakan membengkak, dan keuntungan mengempis.
Perlu diketahui sapi dengan umur diatas 2,5 tahun memiliki pertumbuhan bobot badan yang lambat dibandingkan umur dibawahnya. Pembentukan/ sintesis daging minimal, sementara pembentukan lemak subkutan maksimal.

Baca juga : Cara Membuat Pupuk Cair dari Kotoran Kambing Dengan Mudah

Secara ekonomis, memelihara sapi umur tua sudah jelas merugi. Sebenarnya, berapa ya umur sapi yang ideal sebagai bakalan? yang ideal untuk bakalan adalah pada umur 1,5 sampai dengan 2,5 tahun. Pada umur tersebut pembentukan/sintesis daging sedang bagus-bagusnya, efesiensi saluran cerna juga optimal, sehingga pakan yang diberikan, diserap secara optimal untuk pertumbuhan. Alhasil, PBB optimal, biaya pakan minimal, sementara keuntungan maksimal. Jadi, untuk bakalan pilihlah umur 1,5-2,5 tahun jangan coba-coba pilih yang tua. Lalu bagaimana cara pilih sapi umur 1,5-2,5 tahun? Caranya gampang, lihat saja giginya. Pilihlah sapi dengan poel satu seperti gambar.

Jenis Kelamin

Pemilihan sapi sebaiknya berjenis kelamin jantan. Hal ini disebabkan sapi jantan pertumbuhannya lebih cepat dibanding sapi betina. Disamping itu juga untuk mencegah pemotongan ternak betina produktif.

Performa Baik dan Sehat

Performa bakalan bisa dilihat dari Body Condition Score (BCS). BCS yang baik untuk bakalan yaitu 3. Sapi dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  • · Tidak ada legokan sekitar pangkal ekor
  • · Jaringan lemak dapat diraba dengan mudah pada seluruh bagian
  • · Pelvis dapat diraba dengan sentuhan
  • · Jaringan lemak yang melingkupi bagian permukaan tulang iga masih dapat diraba dengan sedikit tekanan sekitar daerah ini.

Kesehatan menjadi faktor penting dalam pemilihan bakalan. Kesehatan ternak bisa dilihat dari fisik ternak yang lengkap dan normal, seperti kaki tidak pincang, tidak terdapat luka pada kulit, rambut mengkilat, mata dan telinga lengkap, hidung berlendir, serta nafsu makan yang tinggi.

Cara Budidaya Ternak Sapi Potong

Cara Budidaya Ternak Sapi Potong dengan Keuntungan Fantastis

Negara Indonesia memiliki iklim tropis yang sangat cocok digunakan untuk beternak sapi, yang membuat bisnis budidaya ternak sapi potong itu sendiri menjadi salah satu peluang bisnis yang cukup menjanjikan untuk dijalankan.

Keperluan masyarakat Indonesia terhadap daging sapi sangatlah tinggi namun peternak lokal belum bisa memenuhinya secara baik, sehingga hal tersebut justru membuat harga daging sapi melambung tinggi.

Bahkan pasalnya harga daging sapi di Indonesia termasuk yang paling mahal se-negara ASEAN lho, yakni mencapai Rp. 120 ribu untuk satu kilogram.

Melihat kenyataan yang tengah terjadi, tentu bisnis budidaya ternak sapi potong bisa menjadi peluang usaha yang menjanjikan, baik itu di dalam maupun di luar kota.

Ditambah lagi bahwa permintaan daging sapi di Indonesia itu sendiri tergolong tidak pernah berhenti, khususnya pada saat hari-hari besar seperti Idul Adha dan Idul Fitri, yang mana hampir setiap umat muslim menggunakan daging sapi untuk membuat masakan khas hari lebaran.

Meski terdengar begitu menggiurkan dalam hal keuntungan, menjalankan bisnis budidaya ternak sapi potong ternyata tidak semudah yang kita kira lho.

Setiap pelaku usaha harus memiliki kesabaran dan ketelitian yang sangat tinggi, karena bisnis satu ini berhubungan dengan makhluk hidup.

Tetapi tentu seluruh pengorbanan dan kerja keras yang telah kamu lakukan dalam menjalankan bisnis budidaya ternak sapi potong akan segera terbayarkan karena keuntungan dari bisnis ini tidaklah main-main, bahkan bisa mencapai hingga puluhan juta.

Maka dari itu, bagi kamu yang tertarik dengan membangun bisnis budidaya ternak sapi potong, yuk pelajari dulu hal-hal yang perlu diketahui ini. Apa sajakah itu?

Jenis-Jenis Sapi Potong

Di Indonesia, jenis-jenis sapi potong dibagi menjadi tiga golongan, yaitu sapi lokal, sapi impor  dan sapi dari hasil persilangan.

Berikut adalah jenis-jenis sapi yang paling sering digunakan untuk bisnis budidaya ternak sapi potong di Indonesia, yaitu:

1. Sapi Ongole

Jenis sapi pertama yaitu sapi Ongole yang berasal dari India. Dengan sifatnya yang mampu beradaptasi dengan mudah di iklim tropis, jenis sapi ini menjadi sangat digemari oleh para pelaku usaha bisnis budidaya ternak sapi potong di Indonesia.

Hanya saja, pertumbuhannya cenderung lambat dan akan menjadi dewasa ketika telah mencapai usia 4 – 5 tahun.

Sapi Ongole terbagi menjadi dua jenis, yaitu peranakan Ongole (PO) dan Sumba Ongole (SO).

Ciri khas dari jenis sapi satu ini cukup mudah untuk dikenali, yakni warna kulitnya yang putih, warna daerah kepala yang sedikit lebih gelap dan cenderung mendekati abu-abu, postur tubuh yang sedikit panjang, leher sedikit pendek, dan kaki yang terlihat panjang.

2. Sapi bali

Jenis sapi lainnya yang sering digunakan untuk budidaya ternak sapi potong yaitu sapi Bali.

Jenis sapi ini pada awalnya akan berwarna coklat, namun warna tubuhnya akan berubah menjadi semakin gelap seiring dengan bertambahnya usia sang sapi.

Tekstur daging yang lembut dengan sedikit lemak membuat daging sapi Bali memiliki cukup banyak penggemar.

Sapi Bali hanya cocok dibudidayakan di deaerah tropis dengan ketinggian di bawah 100 meter pdl, seperti Bali, Sulawesi, NTB dan NTT.

3. Sapi Impor

Nah, jenis terakhir yang sering digunakan untuk budidaya ternak sapi potong yaitu sapi impor.

Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih saat ini, sapi-sapi yang berasal dari negara sub tropis seperti Amerika, Eropa dan Amerika memungkinkan untuk dibudidayakan di Indonesia.

Sapi-sapi tersebut memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh sapi lokal, seperti dalam hal ukuran tubuh dan pertumbuhan daging.

Beberapa yang paling terkenal yaitu sapi limosin dari Perancis, sapi aberdeen Angus dari Skotlandia, dan sapi simental dari dari Swiss.

Cara Budidaya Ternak Sapi Potong

Setelah mengetahui beberapa jenis sapi potong yang paling sering digunakan, sekarang saatnya mengetahui langkah-langkah yang harus kamu lakukan di dalam bisnis budidaya ternak sapi potong.

Perlu diingat bahwa setiap langkah sangat penting untuk dilakukan secara baik dan benar, karena hal tersebut akan mempengaruhi keberhasilan dari bisnis budidaya ternak sapi potong yang tengah kamu jalani.

1. Pemilihan Bibit Sapi

Langkah pertama untuk budidaya ternak sapi potong adalah pemilihan bibit.

Pemilihan bibit memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap generasi-generasi sapi selanjutnya, sehingga jika kamu memilih bibit sapi yang baik, pastinya kamu juga akan menghasilkan banyak sapi-sapi yang baik pula.

Lalu, apa sih yang harus dilihat ketika memilih bibit sapi?

Bibit sapi yang baik harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Ukuran badan dan kepala harus seimbang, dengan leher sapi yang kekar serta tulang punggung yang lurus dan sejajar, tidak bengkok.
  • Umur bibit berkisar dari 2 – 3 tahun. Sapi berusia 2 tahun akan ditandai dengan gigi power sebanyak 4 biji. Sapi dengan usia tersebut akan memiliki potensi lebih tinggi untuk menambah bobot badannya. Selain itu usia juga tidak terlalu muda ataupun terlalu tua sehingga bagus untuk dibudidayakan.
  • Pilihlah sapi jantan. Tidak hanya karena harganya yang mahal, sapi jantan juga memiliki bobot badan yang lebih besar dibandingkan betina.
  • Ukuran sapi yang ideal untuk penggemukan yaitu 170 cm dengan tinggi pundak normal sekitar 135 cm.
  • Hindari cacat pada sapi
  • Berat minimal 200 Kg
  • Perhatikan bulunya. Bulu sapi yang baik yaitu pendek dan tidak berminyak. Selain itu, bulu juga harus halus, cerah dan tidak kusam atau berdiri.
  • Bentuk muka sapi sebaiknya panjang dengan mata yang berbinar.

Baca Juga: Tiga Jenis Pakan Sapi Potong

2. Penggemukan Sapi

Langkah kedua yang tidak kalah pentingnya di dalam budidaya ternak sapi potong yaitu penggemukan dari sapi itu sendiri.

Ada berbagai faktor yang bisa mempengaruhi cara penggemukan sapi, seperti mulai dari luas kandang, pemberian pakan, hingga usia.

Di Indonesia, proses penggemukan sapi lebih efisien dengan menggunakan kandangan atau kereman, karena dinilai bisa meningkatkan nilai jual serta adanya nilai tambah terhadap kotoran ternak yang dihasilkan.

Dalam melakukan penggemukan sapi dengan menggunakan kandangan atau kereman, maka caranya adalah sebagai berikut:

  • Sapi dimasukan ke kandang
  • pemberian pakan dan air minum tidak dibatasi
  • Pakan hijauan dan konsentrat
  • Sapi tidak dipekerjakan
  • Pemberian obat cacing dan suplemen secara teratur untuk meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh
  • Jangka waktu penggemukan dilakukan selama 100 hari

Pada umumnya, proses penggemukan sapi dilakukan cukup lama dan memakan waktu serta biaya.

Hanya saja, pemeliharaan yang baik dan tepat membuat proses penggemukan tersebut tidak menutup kemungkinan dapat dilakukan dalam 100 hari saja.

Perlu diketahui bahwa suplemen yang baik haruslah tersebuat dari bahan-bahan organik.

3. Pemberian Pakan

Pemberian pakan memiliki hubungan yang erat dengan proses penggemukan sapi, sehingga satu hal ini juga memiliki peran yang sangat penting di dalam budidaya sapi potong.

Pakan merupakan sumber protein yang diubah menjadi energi yang menunjang pertumbuhan sang sapi.

Kualitas dan jumlah pakan yang diberikan kepada setiap sapi haruslah diberikan secara cukup, sehingga energi tersebut dapat diubah ke dalam bentuk daging dan lemak.

Nah, dalam memilih pakan yang digunakan di dalam budidaya ternak sapi potong, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

  • Pakan harus mudah diperoleh
  • Mangandung zat gizi yang tinggi
  • Harus tersedia setiap waktu dengan harga yang terjangkau
  • Pakan ternak sapi bisa diganti, selama memiliki kandungan gizi yang sama
  • Pakan tidak beracun, tidak dipalsukan ataupun dirusak

Hijauan merupakan makanan pokok bagi sapi, yang biasanya terdiri dari dedaunan, rerumputan, dan kacang-kacangan.

Harus diingat bahwa setiap hari sapi membutuhkan setidaknya 10% – 12% pakan hijauan dan 1% – 2% pakan tambahan dari bobotnya.

Pemberian pakan hijauan dilakukan sebanyak 3 kali sehari dan pakan tambahan diberikan sebelum kamu memberikan pakan hijauan.

Selain itu, jangan lupa untuk selalu memberikan suplemen kepada sapi demi menunjang penambahan berat badanya.

4. Kandang

Bisnis budidaya ternak sapi potong sepertinya tidak akan bisa berjalan tanpa adanya kandang yang menampung.

Nah, perlu diketahui bahwa konstruksi kandang untuk sapi potong bergantung pada skala peternakan dan ketersediaan dana dari sang pelaku usaha.

Namun secara umum, kandang setidaknya harus bisa melindungi sapi dari pengaruh iklim lokal dan perubahan cuaca.

Terdapat tiga tipe kandang sapi, yaitu kandang sapi dengan dinding terbuka, setengah terbuka, dan kandang sapi tertutup.

Biasanya, kandang sapi terbuka dan setengah terbuka diterapkan di lokasi dengan dataran rendah yang panas namun dengan tiupan angin yang tidak terlalu kencang.

Sedangkan kandang dengan dinding tertutup sering kali diterapkan di daerah dingin dan berangin atau kandang yang diperuntukan bagi anakan sapi.

Selain yang telah disebutkan di atas, kamu juga perlu memperhatikan beberapa hal ketika tengah mempersiapkan kandang sapi, yaitu:

  • Tempat pakan dan minum, yang sebaiknya terbuat dari bahan-bahan yang tidak melukai, seperti kayu atau tembok
  • Tempat tambat, yang merupakan tiang atau penyangga untuk mengikat sapi agar tidak terlalu banyak bergerak
  • Peralatan kandang, seperti sekop, sapu lidi, garu, selang, sikat dan tali

Dibandingkan bisnis budidaya lainnya, dapat dikatakan bahwa budidaya ternak sapi potong merupakan salah satu bisnis yang membutuhkan modal besar.

Tiga Jenis Pakan Sapi Potong

Tiga Jenis Pakan Sapi Potong

Tiga Jenis Pakan Sapi Potong – Peternakan, khususnya yang berfokus pada penggemukan sapi potong adalah jenis usaha yang menggiurkan. Maka tak heran jika banyak orang serta perusahaan besar yang terjun ke industri ini. Demi bisa bertahan dalam persaingan itu, kualitas dan kuantitas produk menjadi hal mutlak yang harus diperhatikan.

Pakan adalah kunci untuk menjaga kualitas serta kuantitas produksi. Pakan yang baik dengan komposisi nutrien seimbang dan tingkat kecernaan tinggi akan membuat sapi potong cepat gemuk dan memiliki daging yang kualitasnya baik.

Pakan memilliki definisi sebagai bahan yang dapat dimakan, disukai, dapat dicerna, tidak menimbulkan penyakit, serta bermanfaat bagi ternak. Ada banyak jenis pakan yang bisa diberikan pada ternak sapi potong. Secara garis besar, pakan sapi potong dapat digolongkan jadi 3, yaitu pakan hijauan, pakan konsentrat, dan pakan tambahan.

1.  Pakan hijauan

Pakan hijauan adalah pakan yang berasal dari tanaman, mulai dari ujung akar hingga pucuk daun. Hijauan merupakan jenis pakan yang penting dalam usaha peternakan sapi potong sebab menjadi sumber selulosa dan hemiselulosa (serat kasar) yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan pada rumen (lambung hewan pemamah biak).

Hijauan harus diberikan sesuai dengan kebutuhan. Ketiadaan selulosa dan hemiselulosa bisa mengakibatkan pH rumen menjadi asam dan menimbulkan kematian. Sebaliknya, kelebihan hijauan membuat sapi tidak cepat gemuk karena laju kecernaan dari dua senyawa itu dapat dikategorikan lemah.

Jenis hijauan yang direkomendasikan sebagai pakan sapi potong berasal dari bagian tumbuhan yang muda (sebelum berbunga), terutama daun dan batang tanaman rumput dan kacang-kacangan. Tanaman muda yang belum berbunga punya nilai gizi yang lebih baik, entah dari kandungan karbohidrat, protein, maupun vitaminnya sebab semua kandungan gizinya belum dialokasikan untuk perkembangan bunga.

Hijauan yang umum diberikan pada ternak sapi potong diantaranya yaitu: rumput gajah, rumput benggala, rumput setaria, rumput ilalang, jerami padi, dan jerami kacang tanah. Jerami padi diberikan ke sapi potong bukan karena nilai gizinya, melainkan sebab harganya yang murah dan ketersediaannya yang stabil sepanjang tahun.

2.  Pakan penguat (konsentrat)

Pakan penguat adalah bahan dengan kadar serat kasar yang rendah (<18%) sehingga relatif lebih mudah dicerna dibandingkan hijauan. Bahan pakan konsentrat dapat dikelompokkan menjadi konsentrat sumber karbohidrat dan konsentrat sumber protein. Keduanya jenis konsentrat itu penting untuk usaha penggemukan sapi potong.

Pakan konsentrat inilah yang bisa mempercepat penggemukan sapi potong, tetapi, peternak tak bisa memberikan pakan konsentrat sebanyak 100%. Harga yang  relatif tinggi dibandingkan hijauan dan kemungkinan kelainan metabolisme pada tubuh ternak adalah dua hal yang dijadikan pertimbangan mengapa pakan konsentrat harus dicampurkan dengan pakan hijauan.

Limbah pertanian merupakan sumber pakan konsentrat yang umum digunakan  untuk peternakan sapi potong. Harganya yang relatif murah serta nilai gizi yang masih tinggi menjadi alasan mengapa limbah pertanian menjadi primadona di kalangan peternak rakyat maupun perusahaan besar.

Pakan konsentrat yang umum digunakan untuk usaha sapi potong yaitu: bekatul, dedak, ampas singgkong, ampas tahu, DDGS, bungkil kelapa, polard, dan tepung ikan.

3.  Pakan tambahan

Pakan tambahan adalah pakan yang diberikan pada ternak dalam jumlah yang sedikit. Sapi potong yang dipelihara secara intensif membutuhkan pakan penguat untuk meingkatkan performanya. Pakan tambahan dapat berupa vitamin, mineral, urea, dan mikroorganisme.

Vitamin yang biasa diberikan pada sapi potong adalah vitamin A dan vitamin D. Vitamin A berfungsi untuk fungsi penglihatan dan antioksidan sementara vitamin D berguna dalam menjaga kekokohan tulang.

Mineral Ca dan P umum diberikan pada sapi potong guna menjaga agar tulangnya tetap kuat. Tulang yang kuat dibutuhkan sapi demi menjaga tubuhnya yang berat agar tidak rubuh.

Urea adalah sumber protein yang baik untuk sapi potong. Urea dapat tercerna seluruhnya dalam tubuh sapi potong. Sayangnya, urea bisa membahayakan karena laju kecernaannya yang tinggi. Laju kecernaan yang tinggi itu dapat membuat pH rumen menjadi basa. Maka dari itu pemberian urea dibatasi maksimal 2% saja dari jumlah total pakan yang diberikan.

Mikroorganisme sering dicampurkan ke pakan untuk meningkatkan nilai kecernaannya. Mikroorganisme yang ditambahkan tersebut akan bekerja sama dengan mikroorganisme yang ada di rumen sapi untuk merombak nutrien-nutrien yang ada pada pakan. Hasil rombakan itu akan dimanfaatkan oleh sapi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tiga jenis pakan yang disebutkan di atas biasanya diberikan dalam bentuk ransum. Ransum merupakan campuran dari dua atau lebih bahan pakan yang diberikan selama 24 jam. Jika diberikan secara terpisah, maka pertama kali sapi potong akan diberikan ransum berupa konsentrat dan pakan tambahan. Baru kemudian setelah beberapa lama diberikan pakan hijauan. Ransum dapat juga diberikan dalam bentuk campuran dari pakan konsentrat, pakan hijauan, dan pakan tambahan.