fakultas kedokteran yang mudah dimasuki

Berapa Tahun Kuliah Kedokteran dI LN, Ini Jawabannya !

Berapa Tahun Kuliah Kedokteran dI LN, Ini Jawabannya !

Banyak yang bilang, jurusan kedokteran adalah jurusan dengan prospek kerja yang cukup menjanjikan karena profesi dokter sendiri masih dan akan selalu “high demand”. Pendidikan kedokteran pun memiliki durasi lebih lama daripada pendidikan untuk profesi lainnya. Nah, kalau ingin kuliah kedokteran di luar negeri seperti apa dan kira-kira kamu bisa selesai dalam berapa tahun ya? Baca penjelasan seputar kuliah kedokteran di luar negeri dalam artikel berikut ini ya!

Faktor Pembeda Kuliah Kedokteran di Berbagai Negara

Setiap negara memiliki kebijakan yang berbeda dalam mengatur Medical School atau Sekolah Kedokteran. Berikut adalah beberapa fakta yang jadi pembeda Sekolah Kedokteran di berbagai negara:

1. Durasi pendidikan

Berapa tahun kuliah kedokteran di luar negeri? Jawabannya adalah tergantung di negara mana kamu menempuh pendidikan. Di Indonesia sendiri, kamu akan mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) begitu telah menyelesaikan pendidikan selama 4 tahun. Sementara di beberapa negara lain kuliah kedokteran bisa mencapai 5 atau 6 tahun. Meski demikian, gelar ini belum bisa kamu gunakan untuk langsung bekerja, lho!

2. Syarat penerimaan

Persyaratan masuk Sekolah Kedokteran di mana kamu harus memiliki prestasi akademik yang di atas rata-rata juga berlaku di berbagai negara. Namun, meskipun di Indonesia kamu bisa langsung melanjutkan kuliah kedokteran setelah lulus SMA, ternyata hal ini tidak berlaku di semua negara, lho! Misalnya, di Amerika dan Kanada, di mana syarat penerimaannya adalah untuk yang sudah menyelesaikan pendidikan S1.

3. Bahasa

Banyak negara di Eropa yang menawarkan sekolah kedokteran dengan harga terjangkau dan bahkan banyak program beasiswa. Hanya saja sistem belajarnya menggunakan bahasa nasional negara tersebut, sehingga akan memberikan tantangan tersendiri untuk mempelajari bahasa mereka. Jika tidak mengejar beasiswa, beberapa negara juga terbuka untuk pelajar internasional dengan program kedokteran berbahasa Inggris.

4. Kebangsaan

Ternyata tidak semua negara terbuka untuk pelajar internasional yang ingin kuliah kedokteran di negaranya. Misalnya, Kanada tidak menerima pelajar internasional untuk melanjutkan pendidikan kedokteran di negaranya. Hal ini juga berlaku di beberapa universitas di Amerika Serikat. Sebagian lainnya mungkin menerima pelajar internasional, namun dengan biaya studi yang lebih mahal daripada pelajar lokal.

5. Gelar pendidikan

Gelar yang kamu dapat setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran tingkat sarjana di berbagai negara juga berbeda. Mulai dari Bachelor of Medicine, Bachelor of Surgery (MBBS, BMBS, MBChB, MBBCh), hingga Bachelor of Medicine (B.Med). Di Indonesia sendiri S.Ked adalah gelar umum untuk pelajar yang sudah menyelesaikan pendidikan dasar kedokteran di tingkat sarjana.

Kuliah Kedokteran di Berbagai Destinasi Studi Favorit

Secara umum adalah 5 negara yang menjadi destinasi studi favorit bagi pelajar Indonesia untuk kuliah ke luar negeri. Nah, berikut adalah perbedaan pendidikan kedokteran yang juga mempengaruhi berapa tahun kuliah kedokteran di negara tersebut.

Amerika Serikat

Banyak pelajar Indonesia yang bercita-cita untuk melanjutkan studi ke Amerika Serikat, termasuk yang ingin melanjutkan sekolah kedokteran. Sayangnya tidak banyak sekolah kedokteran yang dibuka untuk pelajar internasional. Selain itu, untuk mendapatkan gelar kedokteran Amerika, kamu harus telah menyelesaikan S1 dan telah mengambil mata pelajaran yang diwajibkan untuk penerimaan.

Pertama, kamu harus mengikuti Medical College Admission Test (MCAT) untuk dapat diterima di sekolah kedokteran. Selanjutnya, kamu akan menghabiskan waktu sekitar 4 tahun untuk memperoleh gelar Doctor of Osteopathic Medicine (D.O.) atau Doctor of Medicine (D.M.). Belum selesai sampai di situ, lulusan kedokteran Amerika ini masih harus mengikuti United States Medical Licensing Examination (USMLE) untuk menjadi dokter berlisensi.

Kanada

Kanada merupakan negara yang sangat ramah imigran, banyak orang ingin melanjutkan studi ke Kanada demi peluang karir setelah lulus di negara tersebut. Jika kamu ingin melanjutkan studi di bidang kedokteran, sayangnya Kanada bukan negara yang cocok untukmu. Sekolah kedokteran di Kanada tidak menerima pelajar internasional, kecuali beberapa yang hanya menerima pelajar dari Amerika.

Pendidikan kedokteran di Kanada cenderung mirip dengan Amerika, di mana program kedokteran hanya tersedia untuk yang sudah menyelesaikan S1. Gelar Doctor of Medicine (M.D.) atau Doctor of Medicine and Master of Surgery (M.D., C.M.) akan kamu dapatkan nantinya. Sementara durasi studinya juga tidak berbeda jauh, yaitu tiga hingga lima tahun.

Baca Juga : Cara Menentukan Jurusan Kuliah yang Tepat Sesuai Minat dan Kemampuan

United Kingdom

United Kingdom adalah destinasi studi di mana pelajar internasional dapat melanjutkan pendidikan setelah menyelesaikan pendidikan sekunder. Hanya saja, penerimaan pelajar di sekolah kedokteran di Inggris sangat kompetitif sehingga kamu harus benar-benar “cemerlang” untuk dapat diterima. Penerimaan pelajar kedokteran dilakukan sama dengan program sarjana lainnya yaitu melalui  Universities and Colleges Admissions Service (UCAS).

Sementara itu, gelar yang tersedia di berbagai universitas di Inggris juga sangat variatif. Umumnya adalah Bachelor of Medicine atau Bachelor of Surgery yang singkatannya berbeda tergantung institusi yang menyediakan. Beberapa di antaranya adalah MB ChB, MB BS, MB BCh, dan BMBS.

Australia

Kamu juga bisa menjadikan Australia sebagai destinasi studimu untuk pendidikan kedokteran karena terbuka untuk pelajar internasional. Kamu juga bisa mendaftar begitu lulus dari pendidikan sekunder atau SMA, tentunya dengan syarat berlaku untuk pelajar internasional. Meski demikian, seperti terjadi di banyak negara termasuk Indonesia, program kedokteran termasuk salah satu program yang paling sulit dimasuki.

Secara umum, sistem pendidikan dokter di Australia serupa dengan Inggris meski belakangan banyak dipengaruhi Amerika dan Kanada. Waktu yang kamu butuhkan untuk pendidikan sarjana kedokteran di Australia sendiri adalah sekitar 6 tahun. Sementara berapa tahun kuliah kedokteran hingga siap menjadi dokter spesialis bisa membutuhkan waktu sekitar 9 sampai 16 tahun tergantung spesialisasi yang diambil.

Singapura

Minat pelajar Indonesia untuk melanjutkan studi di Singapura termasuk yang tertinggi di Asia. Hal ini dilatarbelakangi oleh pendidikan kelas dunia yang ditawarkan di lokasi yang relatif lebih dekat dengan tanah air. Hal ini juga berlaku untuk pendidikan kedokteran, terutama di beberapa universitas yang terkenal dengan reputasi pendidikan kedokterannya seperti National University of Singapore dan Nanyang Technological University.

Pendidikan kedokteran di Singapura juga termasuk program sarjana yang sulit untuk dimasuki. Kamu harus memiliki prestasi yang gemilang, baik secara akademik maupun non-akademik untuk dapat diterima. Sementara lama studi yang harus ditempuh adalah sekitar 5 sampai 6 tahun termasuk housemanship atau hospital training.

Cara Menentukan Jurusan Kuliah yang Tepat Sesuai Minat dan Kemampuan

Cara Menentukan Jurusan Kuliah yang Tepat Sesuai Minat dan Kemampuan

Setelah lulus dari sekolah, sebagian besar dari siswa SMA melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Mereka berlomba-lomba untuk bisa masuk ke kampus idaman dan mendapatkan jurusan yang menurut mereka tepat untuk masa depannya.

Sayangnya tidak semua siswa mampu melakukan itu. Alih-alih memiliki pandangan akan masuk ke jurusan apa, mereka justru kebingungan. Akhirnya banyak yang berhenti setahun atau malah asal masuk saja asal bisa kuliah.

Nah, kalau kamu tidak mau mengalami hal seperti ini pikirkan segalanya dengan matang bahkan sejak mulai masuk SMA. Selain itu simak juga beberapa cara menentukan jurusan kuliah sesuai minat dan kemampuan di bawah ini.

1. Pertimbangkan Minat atau Passion

Hal pertama yang harus dilakukan sebelum memutuskan untuk menentukan jurusan kuliah adalah mempertimbangkan passion. Setiap orang memiliki minat sendiri-sendiri entah itu dalam ilmu sosial atau sains. Kalau kamu memiliki minat sosial lalu kuliah di bidang sains, kemungkinan tidak nyambung meski kuliah bisa saja selesai.

Mulai sekarang kenali minat yang paling besar pada diri sendiri. Misal kamu sangat berminat dalam mempelajari anatomi tubuh dan kesehatan. Kalau minat pada bidang ini bisa masuk ke jurusan kedokteran atau keperawatan. Sebaliknya kalau minat kamu ada pada komunikasi, memilih jurusan bahasa atau ilmu komunikasi bisa memberikan keleluasaan.

Setelah menemukan dan mengenali minat, cari jurusan apa saja yang sekiranya masih sejalan. Selanjutnya, daftar jurusan apa saja itu dan analisis peluang setiap jurusannya apakah sesuai dengan kemampuan diri atau tidak.

Baca juga : Profil Pendidikan Kesejahteraan Keluarga UNJ

2. Pahami Kemampuan Diri Sendiri

Passion memang sangat penting untuk menentukan jurusan kuliah mana saja yang sesuai dengan keinginan. Namun, kemampuan diri khususnya dalam bidang akademik juga tidak boleh disepelekan. Dua hal itu harus seimbang dan sejalan agar bisa berjalan dengan lancar.

Misal kamu memiliki minat besar dalam bidang ilmu komputer. Namun, karena dasar-dasar ilmu komputer seperti logika sulit dimengerti, akhirnya tidak bisa masuk ke sana. Kalau pun bisa masuk, kamu akan sulit lulus karena hanya bermodal passion saja dan tidak dibarengi kemampuan.

Hal paling mudah untuk melihat jenis kemampuan apa saja yang dominan pada diri sendiri adalah mengecek hasil ujian atau rapor. Dari sana akan terlihat dengan jelas mata pelajaran apa saja yang mampu kamu selesaikan dengan baik dari awal sekolah sampai sekarang.

3. Pikirkan Saingan yang Ikut Seleksi

Memiliki rasa percaya diri tinggi memang tidak salah. Namun, kalau memiliki rasa percaya diri tidak dibarengi dengan kemampuan, saat seleksi masuk perguruan tinggi kamu bisa saja kalah saing. Apalagi peminatnya ada banyak dan kemampuannya di atas rata-rata.

Setelah menentukan jurusan kuliah yang sesuai dengan minat dan kemampuan, pertimbangkan seleksi masuknya. Jangan sampai kamu terlalu santai dan lupa untuk belajar. Dampaknya, saat seleksi nilai yang dimiliki kalah jauh dengan teman lainnya. Passion harus dibarengi juga dengan strategi serta belajar.

Pilih jurusan yang sama atau masih satu aliran saat melakukan seleksi. Pilih kampus yang peluang seleksinya bisa kamu kejar. Jangan asal memilih jurusan dan kampus karena strategi yang salah bisa membuat kamu tidak diterima di jurusan idaman meski secara kemampuan tidak ada masalah.

4. Bisakah Menyelesaikan Kuliah?

Setelah menentukan beberapa jurusan kuliah yang nantinya akan dimasuki, tahap selanjutnya adalah menanyakan pada diri sendiri. Kira-kira kalau masuk ke jurusan itu kamu bisa lulus kuliah tepat waktu atau tidak?

Pertanyaan ini sangat penting karena tidak sedikit dari mahasiswa yang akhirnya mandek di tengah jalan. Padahal mereka sudah masuk ke jurusan yang sangat disukainya. Namun, karena beberapa masalah entah karena mata kuliah atau hal lain akhirnya tidak diselesaikan dengan sempurna atau molor.

Sebelum kamu masuk kuliah dan akhirnya merasa salah jurusan, ada baiknya menanyakan pada diri sendiri: kira-kira aku mampu menyelesaikan kuliah ini atau tidak, ya? Kalau memang mampu menyelesaikannya, pilih dan perjuangkan saat seleksi masuk agar bisa tembus.

5. Kemungkinan Bisa Berkembang

Kemampuan yang kamu miliki memang penting saat kuliah. Namun, apakah kemampuan itu bisa berkembang dengan baik atau tidak. Kalau sekiranya sulit berkembang dengan baik dan tidak ada peluang dalam dunia kerja, lebih baik memilih yang lain, selama kamu masih bisa.

Selain kemampuan yang bisa berkembang, kamu juga harus memikirkan kemampuan yang bisa dipelajari dan akhirnya kamu menguasainya. Kalau kamu tipe orang yang mudah belajar hal baru, memilih jurusan kuliah akan lebih mudah lagi.

Lakukan prediksi kira-kira dalam beberapa tahun ke depan, jurusan apa yang sekiranya bisa menguasai lapangan pekerjaan. Kembangkan kemampuan itu agar kelak di masa depan kamu lebih mudah mendapatkan pekerjaan.

6. Bertanya pada Kakak Tingkat

Terkadang memiliki kemampuan saja tidak menjamin kamu bisa kuliah dengan baik dari awal sampai akhir. Oleh karena itu lakukan riset terkait dengan jurusan yang kamu pilih. Cari kakak tingkat yang masuk ke sana untuk bertanya apa saja materi kuliah yang akan didapatkan.

Kalau tidak ada akses ke kakak tingkat, kamu bisa juga melakukan riset secara online. Perhatikan materi apa saja yang dipelajari dan bagaimana komentar mahasiswanya. Kalau kamu merasa materi itu bisa dilibas habis, masuklah ke sana. Namun, kalau merasa berat, pilih jurusan lain.

Memahami secara sekilas apa yang akan dipelajari sangat penting saat menentukan jurusan kuliah. Dengan begitu kamu tidak akan salah masuk dan akhirnya harus keluar untuk mencari jurusan yang lebih sesuai.

7. Melakukan Diskusi dengan Orang Tua

Cara menentukan jurusan kuliah yang terakhir adalah melakukan diskusi dengan orang tua. Lakukan sesi sharing terkait dengan jurusan kuliah, minat, dan peluang kerja. Cara ini akan memudahkan kamu dalam menentukan jurusan yang sesuai dan mendapatkan dukungan dari orang tua.

Diskusi dengan orang tua juga membantu kamu dalam menentukan pandangan baru yang selama ini tidak terpikirkan sebelumnya. Diskusi dengan orang tua memang tidak selamanya memberikan hasil akhir yang sesuai dengan keinginan. Namun, tidak ada salahnya untuk dicoba, toh mereka juga yang akan membiayai dari awal sampai akhir.

Terpenting dari semua, anak dan orang tua sudah mengeluarkan pendapatnya. Dengan begitu tidak akan ada unek-unek yang memicu masalah di kemudian hari.

Setelah kamu tahu jurusan apa saja yang sekiranya mampu dijalani dan memiliki peluang kerja, pilih kampus yang tepat. Kampus untuk menimba ilmu ada banyak, tapi kampus yang memberikan jaminan kerja setelah lulus tidak banyak.

Semoga cara menentukan jurusan kuliah di atas bisa kamu manfaatkan sebagai referensi.