enggeh artinya

‘Dasar ndeso’ dan umpatan bahasa Jawa yang ‘lebih berwarna’

Bahasa Jawa adalah bahasa yang unik dengan keragaman kosakata – termasuk untuk urusan menyindir atau ejek-mengejek, kata ahli bahasa.

“Makian itu banyak sekali (dalam bahasa Jawa) nama orang tua dibawa-bawa, hewan dibawa, buah dibawa, status ekonomi dibawa. Bahasa Jawa itu bahasa paling unik,” kata Adi Deswijaya Dosen Bahasa dan Sastra Jawa dari Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo.

Adi mencontohkan kere (atau miskin), asu (anjing), wedhus (kambing), jancokasem (buah asem), hingga nama-nama anggota tubuh seperti ndasmu (kepalamu!).

Ada juga ndeso yang artinya mirip dengan kampungan dalam bahasa Indonesia, merujuk pada perilaku yang seperti orang desa.

“Ada kesan meremehkan dalam kata ndesokok tingkahmu ndeso, kayak orang ndeso,” katanya walau menambahkan bahwa konotasinya bisa baik atau buruk tergantung dengan konteks pemakaian.

“Kalau (bilang) ‘dasar ndeso‘ itu sudah termasuk ejekan,” katanya. “Mengganggap prilaku seperti itu seperti orang desa. Bukan orang desa betulan, tetapi kampungan bahasa Indonesia-nya. Katro kalau Tukul bilang.”

Lainnya ada modarcangkemmukampretpekok, dan semprul. Tinggal pilih sendiri :

Unik karena karena beragam

'Dasar ndeso' dan umpatan bahasa Jawa yang 'lebih berwarna'

Secara umum, keunikan bahasa Jawa terletak pada kekayaan kosakata yang lebih banyak dibanding bahasa Indonesia, kata Dhanang Respati Puguh, Ketua Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro.

“Paling tidak itu ditunjukan dengan adanya tingkatan dalam bahasa Jawa. Itu adalah salah satu bukti bahwa kosa kata bahasa Jawa itu lebih kaya. Tingkatan bahasa Jawa itu kan ada Ngoko, Kromo, dan Kromo Inggil. Variannya paling tidak seperti itu, atau kalau lebih rinci lagi ada Kromo Ndeso, Ngoko Andhap,” paparnya.

Selain itu, penyebutan sebuah benda di Jawa bisa lebih bervariasi dibanding bahasa Indonesia. Jika bulir padi disebut beras dalam bahasa Indonesia, lanjut Dhanang, di Jawa itu disebut pari dan beras yang kecil-kecil disebut menir.

“Juga misalnya ekspresi-ekspresi untuk menyebut kondisi dingin, ada atis, ada adem. Banyak contohnya,” papar Dhanang.

Baca juga : Enam cara untuk mengatasi gangguan ereksi

Tentang ‘misuh-misuh’

Cara mengeluarkan pisuhan atau makian juga ada seninya, kata Dhanang, dan ini terkait dengan siapa yang diajak bicara. Dalam budaya Jawa, dikenal dengan istilah dhupak bujangesem mantri, dan semu bupati.

Artinya, untuk mengingatkan atau mengungkap kekesalan pada seorang bupati atau pemimpin, Anda cukup beri isyarat atau pasemon saja karena dianggap tingkat intelektualnya tinggi.

Sementara untuk tingkat mantri (di bawah bupati) cukup diberi senyum penuh makna, misalnya. Namun untuk kaum kuli cara memberi kritik harus langsung atau eksplisit.

Pasemon sendiri merupakan gaya bahasa penuh simbol, memperbandingkan satu hal dengan hal lain dengan halus dan tidak langsung.

“Saya bisa berkata-kata halus pada orang lain tapi sejatinya saya mengejek (mengkritik), tidak dengan kata-kata vulgar yang maknanya bisa ditangkap dengan semua orang. Dalam bahasa Indonesia mungkin ada unsur-unsur satire,” Dhanang menjelaskan.

“Ketika atasan saya misalnya tidak mengatakan sesuatu, tapi dilakukan dengan ungkapan-ungkapan tertentu saya sudah bisa menangkap apa kemauan atasan saya, walau dia tidak pernah ngomong.”

Teknik seperti ini justru kadang lebih menyakitkan dan mengena dibanding kritik eksplisit, sambungnya, tapi dia menekankan bahwa pasemon ini tidak bisa diterapkan pada semua orang.

“Jawa itu penuh dengan bahasa simbolik,” tutupnya.